Kura-Kura Moncong Babi Indonesia Dijual Illegal

Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIMP) menyita 2.350 kura-kura hidung babi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 17 Januari. Sedangkan, pada 22 Januari, BKIMP menyita 5.284 kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.

Kelompok antipenyelundup satwa, mencatat ada 30 lebih penangkapan melibatkan lebih dari 80.000 kura-kura moncong babi pada 2003 hingga 2013. Dalam satu penangkapan di Timika, Papua, pada 2009, petugas mengevakuasi 12.249 kura-kura moncong babi. Indonesia Real Time sempat berbincang dengan Chris R. Shepherd, direktur regional Traffic di Asia Tenggara. Shepherd, yang meriah gelar PhD dari Oxford Brookes University di Inggris merupakan kelahiran Kanada. Ia tinggal di Asia Tenggara selama lebih dari 20 tahun. (Baca Juga: Kumbang Asal Lampung ditemukan setelah 80 Tahun Hilang)

Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)

Kura-kura moncong babi dijual dalam perdagangan dunia sebagai hewan peliharaan. Makhluk ini memiliki karakter unik, semacam persilangan antara kura-kura air tawar dan kura-kura laut. Moncongnya pun unik, karena seperti hidung babi. Karena itulah mereka sangat populer. Sejumlah besar pembeli barangkali tidak menyadari, kalau mereka membeli hewan yang secara ilegal diambil dari alam bebas, lalu diselundupkan dalam koper atau kargo, untuk dijual. Kadang-kadang secara terbuka di toko-toko hewan peliharaan. Permintaan utama datang dari Cina. Di sana, kura-kura hidung babi dijual sebagai hewan peliharaan atau dikonsumsi sebagai daging mewah.

Di Indonesia, Kura-kura moncong babi ditemukan di Papua dan sejumlah kawasan utara Australia. Mayoritas pencurian ilegal dari alam bebas terjadi di Papua Barat. Habitat mereka terbatas di beberapa sungai. Malangnya, mereka bersarang secara musiman. Artinya, penyelundup tahu kapan mesti mengambil telur-telurnya. Menurut klaim setempat, jumlahnya terus berkurang. Melihat banyaknya kura-kura moncong babi yang dijual di pasar gelap, rasanya fenomena ini tak mengejutkan. Petugas di Bali dan Jakarta patut diacungi jempol atas penangkapan ini. Kewaspadaan, informan yang digunakan secara efektif, serta komitmen untuk memberantas perdagangan ilegal merupakan pendorong kesuksesan pemerintah. Bandara-bandara bersangkutan juga kerap dijadikan sebagai jalur ekspor dan impor pengiriman satwa ilegal. (Baca Juga: Serangga Mirip Alien)

Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)

Kura-kura moncong babi ini hanyalah puncak gunung es. Ada lebih banyak yang sudah, atau akan sukses diselundupkan dari Indonesia. Penyelundup tak akan mengupayakan jalur pengiriman besar lewat bandara, jika mereka tak yakin bakal lolos. Penangkapan penyelundup di Hong Kong serta keberadaan satwa malang ini di pasar adalah bukti bahwa penyelundup sukses melewati keamanan di Indonesia. Tidak hanya menggunakan informan seefektif mungkin, pemerintah juga harus melakukan penyelidikan terpimpin intelijen untuk melacak jaringan penyelundup, sebelum menangkap mereka. Perburuan terhadap perencana dan pendonor penyelundupan akan menjadi kuncinya. Melacak dalang yang mengontrol semuanya dari balik meja merupakan akan membuat perbedaan besar.

Traffic Asia Tenggara telah mengadakan penelitian atas perdagangan spesies kura-kura moncong babi ini. Kami juga memiliki sejumlah rekomendasi yang bisa membantu petugas memberantas perdagangan ilegal satwa, termasuk mengingatkan bahwa Januari hingga Maret adalah Musim penyelundupan kura-kura moncong babi. Kami mengembangkan identifikasi spesies serta panduan dalam bahasa lokal untuk membantu petugas dalam inspeksi. Kami juga melobi pemerintah Indonesia untuk secara keras melawan perdagangan ilegal terhadap kura-kura ini dan jenis lain. Sayangnya, Indonesia masih bertahan sebagai salah satu sumber terbesar penyelundupan kura-kura ilegal sedunia. (Baca Juga: Empat Hewan Langka di Dunia)

Kura-Kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta)

Perdagangan satwa ilegal merupakan salah satu ancaman besar konservasi. Saya tidak bisa menerima ini. Butuh lebih banyak orang yang peduli dan terlibat, bertindak nyata demi menghentikan perdagangan satwa ilegal. Saat ini, perdagangan satwa ilegal menjadi masalah besar. Kami ingin menjamin upaya penyelamatannya terwujud di lapangan. Seperti dilansir dalam Okezone.com. (Baca Juga: Hewan Penghisap Darah)

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: January 30, 2015

0 komentar:

Post a Comment