Ordo Reptilia : Mekanisme Pergantian Kulit dan Mimikri Pada Reptil


Pengertian Mimikri (Oleh: Selvia Indriyana)
Pada  vertebrata dibina atas 2 lapis utama yaitu epidermis dan dermis. Epidermis ini tumbuh terus karena lapisan terdalam terdiri dari sel-sel benih epitel yang terus bermitosis seumur hidup, membentuk sel-sel baru yang bergerak ke arah luar. Pada sel-sel terdalam epidermis terdapat melanosit, sel berisi pigmen melanosit. Pada bangsa berkulit gelap melanosit ada yang sampai menerobos ke dermis. Melanosit berbentuk tetap pada vertebrata tinggi (Aves, Mamalia) sedang pada vertebrata rendah (Pisces, Amphibi, Reptilia) dapat berubah bentuk malahan dapat amoeboid. Dengan proses kembang-susut melanosit ini, hewan dapat mengatur warna kulit, yang berguna sebagai mimikri. Jadi fungsi pigmen pada hewan berdarah dingin (Amphibi, Pisces, Reptilia) adalah sebagai pelindung yaitu dengan mimikri, berguna untuk menyamarkan diri dari lingkungan sehingga mudah menangkap mengsa atau tidak dapat diterkam musuh. (Yatim, 1987)

Sebelumnya perlu dibahas mengenai mimikri dan kamuflase, mungkin tidak sedikit yang menganggap kedua istilah tersebut sama, karena memang keduanya adalah perilaku untuk pertahanan diri, tetapi terdapat perbedaan antara keduanya. Bedanya mimikri merupakan proses adaptasi dimana warna kulit hewan akan berubah  karena peranan pigmen kulit sesuai dengan tempatnya ia singgahi untuk melindungi diri dari predator dan mencari mangsanya contoh bunglon, sedangkan kamuflase adalah proses adaptasi yang menyamakan atau menyeragamkan warna kulit dengan lingkungan sekitarnya untuk melindungi diri dari predator atau untuk mencari makan. Jadi secara singkatnya mimikri adalah salah satu cara hewan berkamuflase.( Yatim, 1987)

Mekanisme Mimikri pada Bunglon
Selain keistimewaan lidahnya, hal yang paling menarik dari bunglon adalah kemampuannya dalam mengubah warna kulit sesuai dengan lingkungan yang dihinggapi. Ketika hinggap di batang pohon kulitnya pun akan berubah sesuai warna batang pohon, ketika hinggap di daun pun kulitnya menjadi hijau.  Banyak orang berpikir bunglon berubah warna untuk berbaur dengan lingkungan mereka. Namun para ilmuwan tidak setuju. Penelitian mereka menunjukkan bahwa cahaya, suhu, dan suasana hati bunglon menyebabkan perubahan warna. Kadang-kadang perubahan warna dapat membuat bunglon lebih nyaman dan membantu berkomunikasi hewan dengan bunglon lain. (Amiya, 2012)

Bunglon mengubah coraknya dalam jangkauan warna yang dimiliki pada spesiesnya yang telah berevolusi. Perubahan ini meliputi semua warna, mulai dari warna biru air laut hingga pink pucat. Bahkan, terkadang terdapat beberapa bunglon yang bisa berubah warna menjadi berpola garis-garis dan titik-titik. Perubahan warna pada beberapa spesies bunglon lain terbatas hanya pada warna-warna tertentu, seperti merah, kuning dan hijau. Menurut kepala Fakultas biologi University of Texas Jonathan A. Campbell dan peneliti herpetologi atau studi amfibi dan reptil. Kecepatan kadal mengubah warnanya juga beragam. Namun, perubahan warna ini berada di bawah kondisi yang tepat dan berlangsung selama beberapa detik, Terkadang, saat perubahan suhu di lingkungan terjadi dengan sangat lambat, perubahan warna pada bunglon juga akan makin lambat. Ada lebih dari 100 jenis bunglon. Sebagian besar perubahan dari coklat sampai hijau kembali. Sebuah perubahan dapat terjadi dalam 20 detik. (Amiya, 2012)

Mekanisme Perubahan Warna pada Bunglon
Pada bunglon terdapat bagian otak yang bernama epitalamus, pada manusia bagian ini tidak berkembang saat terjadi perkembangan embrio dalam janin ibu. Epitalamus ini bermanfaat untuk menginformasikan adanya cahaya yang masuk. Epitalamus akan mengolah rangsang yang masuk kemudian menghantarkannya ke seluruh saraf tepi di seluruh permukaan kulit bunglon, untuk mengubah warna kulit. Perubahan warna kulit ini dibantu oleh hormon dan pigmen(zat warna pada kulit) untuk mengubah susunan pola warnanya sehingga terekspresikan sesuai dengan sinyal saraf yang diterimanya. Hormon yang berperan dalam proses ini yaitu Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis tepatnya pada lobus intermedia. Hormone ini mempengaruhi perubahan warna kulit, dimana pada Reptil, Amphibi, dan Pisces berkembang baik sedang pada mamalia kurang berkembang. Untuk dapat memperlihatkan efek biologis, hormon harus berinteraksi dengan sel sasaran melalui reseptor khusus yang disebut reseptor hormon. Interaksi hormon ini biasanya terjadi melalui pembentukan kompleks hormone reseptor. Reseptor hormone pada sel sasaran biasanya berupa protein besar dengan bentuk tiga dimensi. Protein tersebut hanya akan berikatan dengan hormone tertentu yang sesuai dengan analognya yaitu senyawa yang mempunyai gugus fungsional sama dengan gugus fungsional hormone tersebut. Kurang lebih seperti itulah mekanisme aksi oleh suatu hormon. Sebuah pigmen warna kuit yang disebut melanin juga membantu bunglon berubah warna. Melanin serat seperti sarang laba-laba dapat menyebar melalui lapisan sel pigmen. Kehadiran mereka menyebabkan kulit menjadi lebih gelap. (Intan, 2011) 

Pada dasarnya, kulit bunglon terdiri dari sel-sel khusus yang memiliki warna atau pigmen di dalamnya. Sel-sel ini terletak di lapisan bawah kulit luar bunglon. Lapisan-lapisan ini berisi sel yang terkait erat satu sama lain yang disebut chromatophores. Lapisan ini memantulkan cahaya dan dipenuhi melamin pigmen alami. Lapisan atas chromatophores memiliki pigmen merah atau kuning, sedang lapisan bawah memiliki pigmen biru atau putih. Perubahan warna pada bunglon berawal bari ketika mata bunglon menangkap warna lingkungan sekitarnya, kemudian cahaya ini disalurkan ke bagian epitalamus. Selanjutnya, epitalamus akan mengolah rangsang yang masuk lalu menghantarkannya ke seluruh saraf tepi di semua permukaan kulit bunglon dan chromatophore akan menangkap pesan dari otak tersebut. Dengan begitu, chromatophore akan membesar atau mengecil. Membesar atau mengecilnya chromatophore akan mengakibatkan pigmen-pigmen bercampur dan akan membentuk warna yang menyerupai lingkungan sekitarnya. (Irfan, 2010)

Namun tidak hanya karena rangsang cahaya saja yang dapat merangsang bunglon untuk merubah warnanya, tetapi suhu tubuh, tingkat tekanan, dan perubahan suasana hati seperti terkejut, stress, takut, birahi biasanya juga diekspresikan dengan merubah warna kulitnya. Karena faktor-faktor tersebut, sinyal neurotransmitter tertentu pada sel chromatophores akan berkontraksi dan akan menyebabkan warna kulitnya berubah. (Eviendriani, 2010)

Ketika bunglon cokelat memutuskan untuk beristirahat di bawah sinar matahari. Otak bunglon memberitahu sel-sel kuning di kulit untuk menjadi lebih besar daripada sel biru di bawah ini. Tiba-tiba bunglon berubah menjadi hijau. Warna ini lebih terang sehingga membantu kulit memantulkan sinar matahari cerah. Dalam hal ini, berarti bunglon telah mendapat rangsang berupa cahaya. Sedangkan rangsang berupa suhu, misalnya ketika seekor bunglon dingin, akan berubah warna lebih gelap. Karena warna gelap menyerap panas lebih dari yang ringan. Namun dari beberapa faktor di atas, yang paling mungkin menyebabkan perubahan warna ialah suasana hati. Misalnya ketika bunglon sedang meras tenang, bisa saja warna yang nampak adalah warna hijau karena sel kuningnya tidak terlalu melebar sehingga masih bisa memantulkan sel biru dari bawahnya. Sementara pada bunglon yang marah bisa saja warna yang nampak adalah kuning, karena selnya melebar semua sehingga tidak menampakkan refleksi warna biru. Atau disaat bunglon merasa terancam , ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. (Eviandriani,2010) 

Mekanisme Pergantian Kulit Pada Ular 
Seperti kita tahu, seiring dengan pertumbuhannya, pada umumnya jenis reptile (ular) akan berganti kulit (sheding) secara berkala pada masa-masa tertentu untuk meremajakan lapisan kulit lamanya yg sudah rusak/mati, dan berganti dengan sel kulit baru. Untuk itu proses pergantian kulit (sheding) memerlukan beberapa tahapan- tahapan, seperti halnya dibawah ini:
  • Kulit berangsur-angsur menjadi buram
  • Mata juga berangsur-angsur menjadi buram/berkabut, sampai akhirnya terselimuti selaput berwarna putih buram (milky eyes)
  • Mata berangsur-angsur menjadi jernih kembali
  • Kulit berangsur-angsur menjadi cerah kembali
  • Lapisan kulit lama mengelupas, sampai akhirnya terlihatlah kulit barunya yg terlihat bersih segar dan mengkilat. ( Roels, 2012)
Kesimpulan
  • Mimikri merupakan proses adaptasi dimana warna kulit hewan akan berubah  karena peranan pigmen kulit sesuai dengan tempatnya hidupnya untuk melindungi diri dari predator dan mencari mangsanya. 
  • Pada proses perubahan warna pada reptile ( bunglon) dibantu oleh hormon, yaitu Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis tepatnya pada lobus intermedia yang berfungsi untuk mempengaruhi perubahan warna pada bunglon.
  • Mimikri pada bunglon dipengaruhi faktor cahaya, suhu dan mood (keinggin dari dalam diri bunglon untuk menarik perhatian lawan jenis)
  • Mekanisme mimikri pada bunglon ditentukan oleh membesar dan mengecilnya chromatophore  yang akan mengakibatkan pigmen-pigmen bercampur dan akan membentuk warna yang menyerupai lingkungan sekitarnya.
  • Pergantian kulit pada reptile (Ular) berfungsi meremajakan lapisan kulit lamanya yg sudah rusak/mati, dan berganti dengan sel kulit baru.
  • Warna tubuh putih dan matanya yang berwarna putih keburaman merupakan tanda ketika ular akn melakukan pergantian kulit.
Nah itulah artikel mengenai Mekanisme Pergantian Kulit dan Mimikri Pada Reptil, semoga bermanfaat bagi anda sang pembaca. jika ada yang kurang jelas, silahkan tanyakan melalui komentar saja.

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: May 03, 2014

0 komentar:

Post a Comment