Sub ordo Salamandroidea; Salamander (Plethodon cinereus)

1.1 Latar Belakang (Makalah Oleh: Siti Fadliyah)
Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan. Amphibia merupakan suatu class hewan vertebrata yang paling primitif. Spesies dari Amphibia yang masih eksis hingga sekarang termasuk dalam 3 kelompok yaitu Salamander (Urodela), Caecilian (Gymnophiona) dan Anura. Lebih dari 4600 spesies dari Amphibia dan masing-masing spesies memiliki perbedaan dalam bentuk tubuh, ukuran, ekologi serta tingkah lakunya (Anonim, 2012).


Ordo Urodela (Caudata) memiliki morfologi salamander dengan ciri bentuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak dan ekor serta tidak memiliki tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan. Beberapa spesies mempunyai insang dan yang lainnya bernafas dengan paru-paru. Pada bagaian kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva hampir mirip dengan fase dewasa. Anggota ordo Urodela hidup di darat akan tetapi tidak dapat lepas dari air. Pola persebarannya meliputi wilayah Amerika Utara, Asia Tengah, Jepang dan Eropa (Alamsyah, 2012).

Urodela mempunyai 3 sub ordo yaitu Sirenidea, Cryptobranchoidea dan Salamandroidea. Sub ordo Sirenidae hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae, sedangkan sub ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae. Sub ordo Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae, Rhyacotritoniade, Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae (Anonim, 2013).

Salamander adalah nama umum dari sekitar 500 spesies amfibi. Mereka mirip kadal,dengan tubuh yang ramping, hidung pendek, dan ekor panjang. Salamander Kebanyakan memiliki empat jari di kaki depan dan lima jari di kaki belakang mereka. Kulit mereka yang lembab biasanya membuat mereka bergantung pada habitat di dekat air, atau di bawah naungan (misalnya,tanah lembab), sering ditemui di lahan basah. Beberapa spesies salamander hidup sepenuhnya di perairan, beberapa di darat namun juga membutuhkan air agar tetap lembab , dan beberapa sepenuhnya terestrial hidup di darat sebagai salamander dewasa. Keunikan dari hewan ini adalah mampu regenerasi anggota badan mereka yang hilang (Alamsyah, 2012).

Salamander dewasa umumnya memiliki bentuk tubuh tetrapod dengan batang silinder, empat anggota badan dan ekor panjang. Beberapa spesies seperti sirene dan amphiumas memiliki hindlimbs sedikit atau tidak ada, memberi mereka penampilan yang lebih mirip belut. Sebagian besar spesies memiliki empat jari kaki pada kaki depan dan lima jari pada kaki belakangnya Kulit tidak memiliki sisik dan lembab dan, kecuali dalam kadal air dari Salamandridae yang mungkin memiliki kulit beludru atau berkutil. Salamander memiliki ukuran mulai 2,7 cm termasuk ekornya. Namun khusus untuk salamander raksasa china ukurannya dapat mencapai 1,8 meter dan beratnya mencapai 65 kg (Anonim, 2013).

Oleh karena itu, bahasan ini hanya dibatasi pada ciri, Karakteristik dan habitat, klasifikasi dari Salamander (Plethodon cinereus ),Sistem Reproduksi pada Salamander (Plethodon cinereus) dan Peranan Salamander (Plethodon cinereus) pada kehidupan. Meskipun paparan ini terbatas hanya beberapa pada konsepan penting, namun diharapkan tidak akan mengurangi maksud dan tujuannya sebagai pembekalan wawasan dan pengetahuan terhadap setiap calon tenaga pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
  • Bagaimana Ciri Salamander (Plethodon cinereus)?
  • Bagaiamakah karakteristik dan habitat pada Salamander (Plethodon cinereus)?
  • Bagaimana klasifikasi dari Salamander (Plethodon cinereus)?
  • Bagaimanakah Sistem reproduksi pada Salamander (Plethodon cinereus)
  • Bagaimanakah peranan Salamander (Plethodon cinereus) pada kehidupan?

1.3 Tujuan
  • Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  • Untuk mengetahui Ciri Salamander (Plethodon cinereus).
  • Untuk mengetahaui karakteristik dan habitat pada Salamander (Plethodon cinereus).
  • Untuk mengetahaui klasifikasi dari Salamander (Plethodon cinereus).
  • Untuk mengetahaui Sistem reproduksi pada Salamander (Plethodon cinereus).
  • Untuk mengetahui peranan Salamander (Plethodon cinereus) pada kehidupan.

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  • Bagi penulis dapat menambah wawasan mengenai ciri, habitat, klasifikasi, karakteristik, sistem reproduksi serta relasi antara manusia dengan pada Salamander (Plethodon cinereus)
  • Bagi pembaca dapat memberikan infromasi lebih lengkap mengenai ciri, habitat, karakteristik, klasifikasi dan sistem reproduksi pada Salamander (Plethodon cinereus) serta relasi antara manusia dengan Salamander (Plethodon cinereus).

Bab II
Pembahasan

2.1 Ciri Salamander (Plethodon cinereus)
Salamander mempunyai beberapa ciri yang berbeda pada setiap spesiesnya, di mana di golongkan menjadi dua, antara lain :

A. Ciri Umum
  • Salamander adalah amfibi yang memiliki kemiripan kuat dengan kadal. Ini memiliki tubuh berbentuk panjang dan tipis dengan empat jari pada kaki depan, lima jari pada kaki belakang dan ekor panjang. Ada lebih dari 700 spesies salamander ditemukan diseluruh dunia. Kebanyakan dari mereka yang cerah dalam warna dan memiliki kulit yang lembut dan lembab. Mereka tidak memiliki sisik, bukaan telinga atau cakar pada tubuh mereka (Anonim, 2013).
  • Kulit salamander mengeluarkan jenis khusus dari zat lendir yang memungkinkan mereka untuk tetap dalam kondisi lembab ketika tinggal di tanah kering. Ketika mereka berada dalam air, lendir ini membantu untuk mempertahankan keseimbangan garam dari tubuh mereka dan menyediakan pelumas yang membantu mereka dalam berenang (Anonim, 2013).
  • Salamander adalah makhluk nokturnal. Selama siang hari, mereka menyembunyikan diri di bawah kayu dan sampah daun jatuh lembab. Pada dasarnya, mereka lebih suka hidup rahasia (Anonim, 2013).
  • Sebagian besar salamander adalah karnivora di alam. Umum makanan salamander adalah serangga dan invertebrata kecil. Beberapa salamander besar makan kodok, ikan dan salamander lain juga. Larva salamander makan hewan air kecil (Anonim, 2013).

B. Ciri Unik (morfologi salamander)
  • Salamder mempunyai kepala yang besar, mata yang kecil salah satu contohnya, Salamander Raksasa Cina (Andrias Davidianus).
  • Salamander juga dapat meregenerasi tungkai yang hilang dan bagian tubuh lainnya. Ini memberi mereka keuntungan tambahan saat mereka diserang oleh predator mereka. Ketika pemangsa menangkap bagian tubuhnya, tetes bagian itu dan berjalan pergi. Selain itu juga salamander ini yang bisa menghabiskan masa hidupnya dalam bentuk larva, contohnya, Salamander Axolotl (Ambystoma mexicanum).
  • Meskipun tampilan dijual dewasa seperti kadal, larva yang memiliki banyak kesamaan dengan berudu katak. Mereka dapat dibedakan dengan adanya struktur insang dekat daerah leher.
  • Setiap salamander mempunyai warna, corak, garis-garis, bercak yang berbeda di karenakan spesiesnya yang berbeda pula.
  • Ada pula salamander yang bertubuh kerdil yang pada salamander dewasa berukuran 1,5 - 2,4 inci (4,0-6,2 cm) dari moncong sampai ekor salah satu contohnya, Torrent Selatan Salamander (Rhyacotriton variegatus) (Anonim, 2013)

2.2 Karaktersitik Salamander (Plethodon cinereus)
Salamander adalah hewan vertebrata yang hidup di air dan di darat (Amphibi) yang tergolong ke dalam kelas amphibi yang berekor dan berkaki (Caudata/Urodela) (Johanasmara, 2012). Salamander termasuk hewan karnivor, makanannya berupa invertebrata kecil, seperti serangga, siput, keong kecil, maupun cacing. Para peneliti Kanada telah berhasil menemukan Frogmander (berasal dari kata Frog dan Salamander), fosil yang berusia 290 juta tahun. Sekarang di seluruh dunia terdapat sekitar 700 spesies salamander yang banyak ditemukan di bumi belahan Utara dan hanya di Indonesia yang tidak ditemukan Salamander sedangkan Kosta Rika disebut-sebut sebagai Surga para Salamander. Pada Januari 2008, di temukan tiga spesies baru salamander yang di temukan di Taman Nasiaonal La Amistad (diperbatasan antara Kosta Rika dan Panama). Ketiga spesies itu berukuran kerdil yaitu sekitar 2.8 cm dan 8 cm, sedangkan salamander terbesar di dunia merupakan asli dari Cina yang panjangnya mencapai 165cm dengan berat bisa mencapai kurang lebih 65 kg, di namakan salamander Raksasa Cina atau adrias Davidianus (Alamsyah, 2012).

Seperti yang telah di sebutkan, salamander adalah hewan vertebrata yang hidup di dua alam (amphibi) yang tergolong ke dalam kelas amphibi yang berekor dan berkaki (Caudata/Urodela). Terdapat tiga jenis habitat salamander yaitu :
  • Air: Salamander air, hidup di air sepanjang umur mereka.
  • Semi air: (daerah lembab/ setengah basah)
  • Salamander yang hidup pada daerah ini lebih memilih untuk hidup di darat. Mereka tinggal di air selama musim dingin untuk hibernate. Juga pada awal musim kawin mereka, mereka mulai hidup di air.
  • erestrial: Salamander yang hidup di daerah terestrial hidup di darat sepanjang hidup mereka. Mereka tidak masuk ke dalam air, tetapi lebih suka hidup dekat dengan badan air atau lahan basah.
Respirasi atau pernafasannya berbeda dengan species lain. Salamander memiliki insang eksternal insang eksternal yang terlihat seperti gumpalan di kedua sisi kepala. Beberapa salamander yang terestrial menggunakan paru-paru untuk bernafas, meskipunparu-parunya hanya sederhana seperti kantung, tidak seperti organ-organ yang lebih kompleks yang ditemukan pada mamalia (Johanasmara, 2012).

Salamander juga mengganti kulit luar mereka secara teratur saat mereka tumbuh, dan kemudian memakan kelupasan yang dihasilkan. Namun di kebanyakan anyak spesies, seperti Olm, memiliki paru-paru dan insang. Beberapa spesies terestrial juga memiliki kemampuan seperti katak, dapat bernafa melalui kulit mereka, sebuah proses yang dikenal sebagai respirasi valerian di mana kapilernya tersebar di seluruh epidermis, dan di dalam mulut (Alamsyah, 2012).

Bahkan beberapa spesies dengan paru-paru bisa bernafas melalui kulit dengan cara ini. Kulit salamander mengeluarkan lendir, yang membantu menjaga kelembaban mereka ketika pada lahan kering, dan mempertahankan keseimbangan garam mereka sementara dalam air, serta memberikan pelumas selama berenang. Salamander terestrial menangkap mangsanya dengan cepat menggunakan lidah lengket mereka yang melekat pada mangsa yang kemudian ditarik ke dalam mulut. Dalam kombinasi dengan gerakan lidah, salamander mungkin akan menerjang maju dan menangkap mangsanya dengan rahang mereka. Untuk menemukan mangsanya, salamander menggunakan visi warna triwarna di kisaran ultraviolet didasarkan pada dua jenis fotoreseptor maksimal sekitar 450 nm, 500 nm dan 570 nm (Anonim, 2011).

Pada salamander bawah tanah mereka tidak memiliki mata. Larva dan salamander dewasa yang hanya hidup di air juga memiliki organ garis lateral mirip dengan ikan yang dapat mendeteksi perubahan tekanan air. Salamander juga telah memilki telinga eksternal. Beberapa spesies salamander menggunakan autotomy alias pemutusan ekor untuk menghindari predator. Salamander akan menumbuhkan bagian tubuh mereka yang putus hanya dalam beberapa minggu. Mereka juga dapat menghasilkan zat putih susu yang beracun. Kerabat terdekat mereka adalah katak dan kodok (Alamsyah, 2012).

2.3 Klasifikasi Salamander (Plethodon cinereus)
a. Salamander Raksasa Cina (AndriasDavidianus)
Salamander Raksasa Cina (Andrias davidianus) adalah salamander terbesar di dunia yang panjangnya dapat mencapai hingga 165 cm dan merupakan spesies asli dari Cina. Salamander ini memiliki kepala besar, mata kecil dan kulit yang gelap dan berkerut-kerut. Spesies ini hidup di aliran air dingin di pegunungan dan suka hidup di gua. Ia menyangga hidupnya dengan memakan serangga, kodok dan ikan. Fungsi mata pada salamander raksasa ini tidak terlalu baik, sehingga ia bergantung pada nodus sensoris khusus yang terletak pada dahinya untuk mendeteksi setiap pergerakan yang ada (Johanasmara, 2012).

b. Salamander Punggung Merah (Plethodon cinereus)
Hewan ini juga dikenal sebagai Salamander punggung merah utara untuk membedakannya dari Salamander punggung merah selatan (P. serratus). Salamander punggung merah ditemukan banyak ditemukan dalam dua variasi. Salamander punggung merah (Plethodon cinereus) adalah salamander hutan kecil. Hewan ini mendiami lereng berhutan di Amerika Utara sisi timur; yaitu ke barat hingga Missouri; selatan hingga Carolina Utara; dan utara dari Quebec bagian selatan dan Provinsi Maritimes di Kanada hingga Minnesota. Hewan ini juga dikenal sebagai Salamander punggung merah utara untuk membedakannya dari Salamander punggung merah selatan (P. serratus). Salamander punggung merah ditemukan banyak ditemukan dalam dua variasi (Johanasmara, 2012).

c. Southern Torrent Salamander (Rhyacotriton variegatus)
adalah spesies salamander di keluarga Rhyacotritonidae. Ini adalah endemik untuk Pacific Northwest Amerika Serikat. Yang Dewasa berukuran 1,5 - 2,4 inci (4,0-6,2 cm) dari moncong sampai ekor. Habitat alamnya adalah hutan subtropis, sungai, dan sumber air tawar (Alamsyah, 2012).

d. Asiatic Salamander (Hynobius abe)
adalah salamander primitif ditemukan di seluruh Asia, dan di Rusia Eropa. Mereka sangat erat terkait dengan salamander Giant (Keluarga Cryptobranchidae), dengan mana mereka membentuk subordo Cryptobranchoidea. Sekitar setengah dari hynobiids yang unik ke Jepang , Dan, tidak seperti keluarga kadal lain yang berkembang biak secara internal, kadal jantan fokus pada kantung telur daripada perempuan selama berkembang biak . betina meletakkan dua kantung telur pada satu waktu, masing-masing berisi sampai tujuh puluh telur. Habitat alaminya adalah hutan, rawa-rawa dan sumber air. Salamander Abe kini berstatus kritis akibat dari hilangnya habitat salamander ini (Johanasmara, 2012).

e. Mole Salamander (Ambystoma tigrinum)
Mole Salamander (Genus Ambystoma) adalah kelompok salamander endemik di Amerika Utara, genus hanya dalam Ambystomatidae keluarga. Kelompok itu telah menjadi terkenal karena kehadiran Axolotl (Ambystoma mexicanum), banyak digunakan dalam penelitian, dan Salamander Tiger (Ambystoma tigrinum, Ambystoma mavortium) yang merupakan amfibia resmi negara, dan sering dijual sebagai hewan peliharaan (Alamsyah, 2012). Salamander axolotl memiliki alat pernapasan eksternal, yaitu 3 pasang insang dibagian belakang kepala terletak pada sisi kanan dan kiri. Insang-insang tersebut menyerupai tanduk-tanduk. Axolotl memiliki panjang tubuh 20-30 cm, dengan berat 60-110 g. Salamander betina memiliki tubuh yang lebih besar dan kloaka kecil dan bulat. Sedangkan salamander jantan lebih ramping, dengan kloaka lebih menonjol. Salamander memiliki 4 tungkai yang mempunyai 5 jari-jari kecil dan runcing. Ekor axolotl menyerupai bulu, berfungsi untuk berenang. Warna tubuhnya bervariasi, hijau, agak kehitaman, cokelat, hingga merah muda (Alamsyah, 2012).

2.4 Sistem Reproduksi pada Salamander (Plethodon cinereus)
Salamander berkembang biak secara internal, di mana umumnya jantan menghasilkan sel sperma yang mengandung spermatofor yang nantinya akan di tampung oleh hewan betina di dalam kloaka. Kloaka salamander merupakan muara dari saluran urine, genital, dan pencernaan (urogenital). Setelah sel telur betina dibuahi, sel sperma akan terbentuk menjadi telur. Telur tersebut diletakkan di air atau di darat (Johanasmara, 2012).

Karena salamander, seperti semua amfibi, bertelur di air, telur mereka tidak memiliki shell pelindung seperti, misalnya, telur ayam. Hal ini membuat telur salamander rentan terhadap polutan kimia, radiasi ultraviolet, dan faktor lain yang mengganggu pembelahan sel pada tahap awal embrio. Akibatnya, embrio tidak dapat berkembang dengan baik, dan itu akan mati (Anonim, 2012).

Salamander telur tidak memiliki cangkang keras untuk melindungi mereka dari polutan kimia atau radiasi ultraviolet. Bahkan ketika menetas telur, salamander tetap peka terhadap lingkungan mereka. Salamander, seperti semua amfibi, memiliki kulit permeabel; gas dan air cukup memasuki atau meninggalkan tubuh melalui kulit ini. Ini kulit permeabel, bagaimanapun, memberikan sedikit perlindungan atau tidak dari racun dalam tanah atau di dalam air. Dengan air dan gas yang masuk melalui kulit, salamander juga mengambil dalam racun. Dengan cara ini, amfibi adalah spons lingkungan, menyerap bahan kimia dan racun dari air atau udara di sekitar mereka. Permeabel melalui kulit mereka, salamander menyerap bahan kimia yang berada dalam air (Johanasmara, 2012).

2.5 Peranan Salamander (Plethodon cinereus) pada Kehidupan
1. Telur salamander dapat di gunakan sebagai obat kanker.
Pada umumnya, kanker timbul karena adanya sel-sel yang berubah dan bermutasi serta gen penekan tumor dalam tubuh kita tidak berfungsi. Untuk itu, para ilmuwan di Universitas Nottingham berhasil menyiasati kondisi itu dengan mengendalikan sel kanker. Mereka mengaktifkan gen supresor kanker dengan ekstra oosit axolotl. Para ilmuwan mengatakan bahwa penemuan tersebut merupakan teknologi terbaru yang terbilang ampuh bagi pengobatan beberapa jenis kanker (Sari, 2011).

Para peneliti lalu melirik salamander jenis axolotl. Binatang ini dikenal dengan kemampuannya yang bisa menumbuhkan kembali beberapa bagian tubuhnya. Para ilmuwan menemukan bahwa zat protein pada manusia dan axolotl memiliki kesamaan. Adapun oosit axolotl, yakni telur salamander sebelum ovulasi, mengandung molekul yang aktif memodifikasi epigenetik dan kapasitas kuat untuk mengubah tanda epigenetik pada DNA sel manusia. Saat menangani sel-sel kanker dengan ekstrak oosit axolotl, para peneliti ternyata mampu mengaktifkan kembali gen supresor tumor dan menghentikan pertumbuhan kanker. Bahkan, keberadaan sel kanker tidak terbukti setelah 60 hari kemudian (Sari, 2011).

Para peneliti mengatakan identifikasi zat protein pada telur axolotl oocytes yang mampu membalikkkan keadaan sehingga menekan sel kanker merupakan sebuah terobosan dalam pengobatan kanker. Ini juga merupakan senjata yang menjanjikan dalam memerangi kanker. Hasil temuan tim peneliti Universitas Nottingham ini juga telah dipublikasikan pada jurnal Molecular Cancer (Sari, 2011).

2. Salamander dapat di jadikan sebagai hewan peliharaan.
Salah satu contohnya adalah Salamander Tiger (Ambystoma tigrinum, Ambystoma mavortium) yang merupakan amfibia resmi negara, dan sering dijual sebagai hewan peliharaan dan salamander juga dapat dijadikan sebagai bahan penelitian (Sari, 2011).


Bab III
Kesimpulan
 
  • Salamander adalah amfibi yang memiliki kemiripan kuat dengan kadal. Ini memiliki tubuh berbentuk panjang dan tipis dengan empat jari pada kaki depan, lima jari pada kaki belakang dan ekor panjang.
  • Ada lebih dari 700 spesies salamander ditemukan di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka yang cerah dalam warna dan memiliki kulit yang lembut dan lembab. Mereka tidak memiliki sisik, bukaan telinga atau cakar pada tubuh mereka.
  • Terdapat tiga jenis habitat salamander yaitu :
  • a. Air: Salamander air, hidup di air sepanjang umur mereka.
  • b. Semi air (daerah lembab/ setengah basah): Salamander yang hidup pada daerah ini lebih memilih untuk hidup di darat. Mereka tinggal di air selama musim dingin untuk hibernate. Juga pada awal musim kawin mereka, mereka mulai hidup di air.
  • c. Terestrial Salamander yang hidup di daerah terestrial hidup di darat sepanjang hidup mereka. Mereka tidak masuk ke dalam air, tetapi lebih suka hidup dekat dengan badan air atau lahan basah.
  • Klasifikasi Slamander, terdiri dari: Salamander Raksasa Cina (AndriasDavidianus), Salamander Punggung Merah (Plethodon cinereus), Southern Torrent Salamander (Rhyacotriton variegatus), Asiatic Salamander (Hynobius abe) dan Mole Salamander (Ambystoma tigrinum).
  • Peranan salamander yaitu sebagai obat kanker dan sebagai hewan peliharaan


Daftar Pustaka

Alamsyah, Muh. 2012. Beberapa Spesies Dari Kelas Amfibi (Online). (http://muhalamsayah.blogspot.com/2012/10/salamander.html), Diakses tanggal 6 Januari 2014.
Annonim, A. 2013. Beberapa Jenis Kadala Salamander (Online). (http://www.analisadaily.com/mobile/pages/news/46103/beberapa-jenis-kadal-salamander ), Diakses tanggal 6 Januari 2014.
Anonim, B. 2012. Salamander axolotl (Online). (http://gembiralokazoo.com/collection/salamander-axolotl.html), Diakses tanggal 6 Januari 2014.
Anonim, C. 2011. Amfibi (online). (http://albertosouza47.blogspot.com/2011/03/amfibi.html), Diakses tanggal 6 Januari 2014.
Johanasmara. 2012. Salamander (Online). (http://johanasmara.blogspot.com/2012/02/salamander.html), Diakses tanggal 6 Januari 2014.
Sari, D. 2011. Salamander (Plethodon cinereus)(Online). (http://dunianyasari.blogspot.com/2011/11/salamander.html), Diakses tanggal 6 Januari 2014.

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: January 21, 2014

0 komentar:

Post a Comment