Ordo Caecelia

Ordo caecilia merupakan sebuah ordo caecilia dari vertebrata, Nama caecilia berasal dari bahasa Latin caecus = buta, merujuk pada matanya yang kecil atau tidak ada. Nama itu berasal dari nama taksonomis dari spesies pertaa yangdideskripsikan Carolus Linnaeus, yang diberi nama Caecilia tentaculata. Nama taksonomis ordo ini berasal dari bahasa Yunani γυμνος (gymnos, telanjang) dan οφις (ophis, ular), karena mulanya sesilia dianggap berkerabat dengan ular.

Cecilia, Gymnophiona atau Apoda adalah ordo amphibia yang bertubuh serupa cacing besar atau ular. Hewan ini amat langka. Selain karena hanya ditemukan di daerah hutan-hutan yang masih baik, sesilia hidup di dalam tanah yang gembur, di dekat sungai atau rawa-rawa sehingga jarang sekali didapati oleh manusia. Dalam bahasa jawa mereka disebut ulo duwel. Ordo Caecilia mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut apoda. Hewan ini memiliki bentuk seperti cacing karena tubuhnya yang bersgmen. Menurut Zug (1993) ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Ureaotyphillidae, scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Ichtyophiidae adalah salah satu famili yang ada di indonesia. Caecilia sangat jarang ditemukan karena jumlahnya yang semakin sedikit, sehingga hewan ini termasuk hewan langka. Hewan ini pun jarang diketahui oleh banyak orang, sehingga dengan makalah ini saya berharap dapat menjelaskan scara yerperinci mengenai ordo Caecilia.

Secara anatomi caecilia  sama sekali tidak mempunyai kaki, sehingga jenis kecil mirip cacing dan yang besar sepanjang 1,5 m mirip ular. Ekornya pendek atau tidak ada, dan kloakanya dekat ujung badan. Kulitnya lembut dan berwarna gelap tidak mengkilap, namun beberapa jenis berwarna-warni. Di dalam kulit ada sisik dari kalsit. Karena sisik inilah, sesilia pernah dianggap berkerabat dengan Stegocephalia fosil, namun sekarang hal itu dipercaya karena perkembangan sekunder dan kedua kelompok itu tidak mungkin berkerabat. Kulitnya juga memiliki banyak lipatan berbentuk cincin, yang sebagian menutupi tubuhnya sehingga mereka nampak beruas-ruas. Seperti amfibia lain, di kulitnya ada kelenjar yang mensekresikan racun untuk mengusir pemangsa. Sekresi kulit Siphonops paulensis telah ditunjukkan memiliki sifat hemolisis.

Pada ordo caecilia disini mengambil contoh spesies yaitu Ichthyyophis monochrous merupakan ordo dari caecilia yang memiliki warna tubuh coklat atau biru keuangan. Tidak semua caecilia memiliki garis internal bewarna kuning, garis lateral ada yang lurus penuh sampai terputus-putus. Garis lateral ada yang berwarna kuning atau putih. Tentakelnya relatif kecil dan berada diantara mata dan lubang hidung. Walaupun tubuh Ichthyophis monochrous memanjang seperti cacing tetapi ekornya sangat pendek, yang berada dibelakang anus. Ichthyophis monochrous memiliki gigi berjumlah dua pasang, yaitu sepasang dibagian atas mulut yang disebut premaxiallary-maxillary teeth dan vomeropalatine teeth, dan sepasang lagi di bagian bawah mulut yang dinamai splenial teeth dan dentary teeth. Spesies dari family Ichthyophiidae memiliki ekor yang nyata. Tengkoraknya memiliki atap yang lebih padat (stegokrotaphich). Posisi mulut bisa terminal atau subterminal, sisik dapat ditemukan pada annuli tubuh. Tentakel terletak diantara mata dan nostril akan tetapi letaknya lebih dekat ke mata, panjang tubuhnya bisa mencapai 50 cm. Betinanya mengeluarkan beberapa telur ditanah yang lembab atau di liang yang dekat dengan air yng kemudian akan berkembang menjadi larva aquatic.

Habitat dan makanannya ichthyophis monochrous menyukai tempat-tempat yang basah atau lembab seperti pada tepi-tepi sungai atau parit, di bawah tumpukan batu, kayu terserah yang bertimbun dan di dekat kolam atau rawa. Makanannya tidak begitu diketahui, meskipun nampaknya terdiri atas serangga dan invertebrata yang ditemukan di habitatnya. Makanannya berupa serangga, cacing dan ular kawat (Typhlops). Di dalam tangkaran, Ichthyophis monochrous memakan lalat yang dimatikan atau yang dilumpuhkan dan ditaburkan ke dalam kandangnya.

Penyebara Ichthyophis monochrous kebanyakn di temukan di wilayah tropis di Asia tenggara, Afrika, kepulauan Seychelles dan Amerika Selatan, kecuali daerah kering dan pegunungan tinggi. Di Amerika Selatan penyeebaran mereka juga meluas ke daerah sejuk di utara Argentina. Mereka dapat ditemukan ke selatan hingga sejauh Buenos Aires, saat mereka terbawa banjir sungai Parana jauh di utara. Tidak ada studi tentang mereka di Afrika tengah, tetapi sesilia mungkin ada di hutan tropis di sana. Sebaran paling utara adalah spesies Ichthyophis sikkimensis di India utara. Di Afrika, sesilia ditemukan dari Guinea Bissau (Geotrypetes) hingga Zambia Utara (Scolecomorphus). Di Asia Tenggara, penyebarannya tidak menyeberangi garis Wallace, mereka juga tidak ditemukan di Australia atau pulau-pulau di antaranya. Ichthyophis juga ditemukan di Cina Selatan dan Vietnam Utara. Mereka juga ditemukan di Selandia Baru.

Menurut Djoko T. Iskandar dalam bukunya Amfibi Jawa dan Bali (1998), sesilia yang ditemukan di Indonesia tergolong ke dalam dua marga (genus). Ialah marga Caudacaecilia yang menyebar di Kalimantan dan Sumatra, dan marga Ichthyophis yang didapati di Kalimantan, Sumatra dan Jawa.

Reproduksi Ichthyophis monochrous salah satu spesies dari  ordo amfibi yang pembuahannya internal. Sesilia jantan memiliki organ mirip penis, disebut phallodeum, yang dimasukkan ke kloaka betina selama 2 sampai 3 jam. Sekitar 25% spesies sesilia ovipar (bertelur); telurnya itu dijaga oleh betina. Pada beberapa spesies, sesilia sudah bermetamorfosis saat menetas; yang lain menetas menjadi larva. Larvanya tidak sepenuhnya hidup di air, namun menghabiskan waktunya di tanah dekat air. 75% spesies vivipar, yang artinya mereka melahirkan anak yang sudah berkembang. Janinnya diberi makan dalam tubuh betina dari sel-sel oviduk, yang mereka makan dengan gigi pemegang khusus.

Spesies Boulengerula taitanus yang bertelur memberi makan anaknya dengan mengembangkan lapisan luar kulit yang kaya akan lemak dan nutrisi yang dikuliti anaknya dengan gigi yang serupa. hal ini memungkinkan mereka tumbuh sepuluh kali lipat beratnya dalam seminggu. Kulit itu dimakan tiap tiga hari, waktu yang diperlukan lapisan baru untuk tumbuh, dan anak itu diamati hanya makan pada malam hari. Dulu anak muda itu dianggap hidup dari caiarn sekresi dari ibunya.  Beberapa larva seperti larva Typhlonectes, lahir dengan insang luar yang besar yang hampir segera tanggal. Ichthyophis bertelur dan diketahui menunjukkan sifat merawat anak dengan ibu menjaga telur-telurnya hingga menetas.

Sumber:
  • Zug, G.R., L.J. Vitt, J.P. Caldwell. 2001. Herpetology, an Introductory Biology of Amphibian and Reptiles. Academic Press. USA
  • Anderson, D.T., 1998. Invertebrate zoology. Oxford university press
  • Aulia, 2013. Manfaat hewan vertebrata bagi kehidupan. biologiaulia.blogspot.com (diakses pada tanggal 1 januari 2014).
  • Widihikrama, Candra. 2011. jomet.files.wordpress.com/2011/10/chordata.ppt‎. (di akses tanggal 1 januari 2014)

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: January 23, 2014

0 komentar:

Post a Comment