Kebudayaan Lampung



a. Adat Lampung
Adat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/ buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat.


Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi, sehingga rapat/ sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatnya Sangaji Malihi (Ratu Adil).

Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/ Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang. Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/ bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu.

Kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/ jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/ 1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/ hanacaraka masih ada sampai sekarang. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/ bersama dalam pembentukan Adat. Pepadun = Musyawarah/ mufakat, Sai batin = Bersatu/ bersama, Lampung sai = Kita bersatu/ mereka bersatu, Aji sai = Saya satu/ ini satu, Sang Bumi Ruwa Jurai = pepadun saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu.

b. Aksara Lampung
Kepulauan Sumatera pernah didatangi bangsa Yunani dari daratan Indonesia-Cina pada abad Sebelum Masehi. Bangsa ini sebelum datang secara besar-besaran, mereka masuk Nusantara dengan kelompok-kelompok kecil.

Mereka membawa berbagai kebudayaan antara lain falsafah/ ajaran Buddha dan aksara/ tulisan kaganga. Khusus di Lampung sekarang dikenal dengan tulisan Lampung karena pada zaman modern ini Lampunglah yang lebih dulu mengangkat aksara kaganga tersebut. Di Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumatera Selatan, aksara kaganga dikenal dengan nama tulisan ulu dalam wilayah pedalaman Batanghari Sembilan di Jambi, dikenal dengan nama tulisan encong, di Aceh dengan tulisan rencong, di Sumatera Utara/ Batak dengan tulisan pustaha/ tapanuli.

Di wilayah kepulauan nusantara ini yang memakai tulisan kaganga hanya di Pulau Sumatera dan Sulawesi (ada 22 wilayah) dan di luar wilayah tersebut memakai tulisan/ aksara pallawa/ hanacaraka yang berasal dari India sesudah masuk abad Masehi bersama dengan ajaran/ falsafah Hindu, yang kemudian hari berkembang di Pulau Nusa Kendeng/ Pulau Jawa sekarang dan Bali. Di pusat Kerajaan Saka/ Aji Sai, raja-rajanya adalah titisan penjelmaan Naga Sakti/ Nabi Khaidir, dalam rangka mengemban tugas Tuhan Yang Maha Esa dengan menurunkan hukum inti Ketuhanan (falsafah Jaya Sempurna) sepanjang zaman. Di Pagar Alam Lahat, tepatnya di antara perbatasan 3 provinsi: Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu lokasi tersebut sampai saat ini belum terungkap dan masih merupakan misteri bagi bangsa Indonesia. Untuk mengungkapnya perlu dipelajari tulisannya, yaitu kaganga atau pallawa (hanacaraka).

c. Mahkota Siger Lampung
Siger adalah sebuah bentuk mahkota keagungan ada budaya dan tingkat kehidupan yang terhormat. Dalam kebiasaanya Siger digunakan oleh pengantin perempuan Lampung, artinya menyimbolkan sifat feminim.

Kemunculan Siger berasal dari cerita rakyat secara turun-temurun. Dahulu kala bila warga akan mengadakan acara adat Lampung seperti pernikahan atau Cakak Pepadun (sebuah upacara Lampung). Masyarakat meminjam atau menggunakan Siger Emas dari alam gaib melalui sebuah tempat di salah satu kebun warga. Kebun warga yang keberadaannya gaib itu, merupakan perkampungan masyarakat Lampung pada jaman yang lebih dahulu dari waktu itu. Namun karena suatu hal perkampungan ini hilang beserta penghuni kampung itu. Tapi masyarakat masih bisa berhubungan dengan warga Kampung yang hilang itu dengan cara meminjam Siger yang dipergunakan untuk digunakan dalam kegiatan tdat tersebut. Namun karena ketamakan warga yang telah berlaku curang setelah menggunakan Siger tersebut tidak di kembalikan lagi ke kampung gaib itu lagi, Sehingga keberadaan Siger gaib itu hilang entah kemana. Namun di kampung gaib itu masyarakat masih sering mendengar adanya suara-suara penghuni alam gaib itu. Seperti suara musik kolintang khas Lampung pada hari-hari tertentu.

Sumber:
  • Anynomous. 2013. Sejarah Lampung (Online). http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 22 Desember 2013
  • Sela. 2009. Sejarah Lampung (Online). http://sejarahlampung.blogspot.com. Diakses pada tanggal 22 Desember 2013
  • Supriyanto. 2012. Sejarah Lampung (Online). http://supriliwa.wordpress.com. Diakses pada tanggal 22 Desember 2013
  • Jung. 2008. Sejarah Lampung dan Bahasa Lampung (Online). http://lampungmig33.darkbb.com. Diakses pada tanggal 22 Desember 2013

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: January 23, 2014

1 komentar:

  1. lagu lampungnya mane...........////////..????????????????

    ReplyDelete