Agroekosistem Tanaman Karet

Agroekosistem adalah komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan dengan lingkungannya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah oleh manusia untuk menghasilkan Pangan, pakan, serat, kayu bakar, dan produk-produk lainnya. Pengertian lain tentang agroekosistem adalah, bahwa agroekosistem merupakam  salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang bertujuan menghasikan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia.

Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Amerika Selatan. Setelah percobaan berkali-kali yang dilakukan oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan dan sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Tanaman karet merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang biasanya dapat tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian sekitar 200 m diatas permukaan tanah. Tanaman ini menjadi primadona di Lampung Utara terutama Kabupaten Way-kanan. Selain penghasil lateks yang dapat dijual, rantingnya juga banyak digunakan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar, batang karet yang tidak menghasilkan lateks ditebang dan dijual untuk dijadikan arang.

Berbagai jenis tanaman karet ada pada daerah ini, seperti karet  RIM, karet PR, karet alam, karet daun lima (yang saat ini baru naik daun) dan karet polong merah dari Malaysia yang masih dalam tahap penanaman sebagai percobaan uji kualitas lateksnya. Tanaman karet memang sudah biasa di lakukan tumpang sari dengan tanaman padi, kedelai dan jagung saat karet berumur di bawah 3 tahun namun untuk tanaman karet di atas 3 tahun tanaman sela di kebun karet jarang lagi di lakukan oleh petani. 

Upaya mengembangkan tanaman sela karet di atas 3 tahun yang paling cocok adalah tanaman jahe merah. Tanaman jahe merah memiliki keunggulan merupakan tanaman yang sangat mudah di budidayakan dan hampir tidak banyak hama penyakit yang menyerang  jahe merah, tanaman jahe merah merupakan tanaman mampu hidup secara liar di hutan apalagi jika tanaman jahe merah ini di budidayakan secara baik. Tanaman lain yang bisa dijadikan sebaga tumpang sari seperti tanaman salak dan tanaman coklat.

Pada agroekosistem karet tumbuhan lain yang bersifat parasite juga dominan pada perkebunan karet, seperti lumut kerak, pohon benalu, rumput teki dan berbagai jenis jamur. Penyakit yang biasanya menyerang tanaman karet adalah jamur akar putih (Rigidoporus lignosus). Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas. Penyakit bidang sadap Mouldy Rot Penyebab jamur Ceratocystis fimbriata, kering alur sadap penyebab petidak seimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan.


Jarak tanam pohon karet adalah 6 m x 3 m atau jumlah populasi sekitar 550 pohon per ha. Umur tanaman tanaman karet siap disadap pada umur sekitar 5-6 tahun. Pengukuran lilit batang untuk mengetahui kematangan pohon karet. Pohon karet dinyatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 45 cm atau lebih. Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100 cm dari pertautan okulasi untu tanaman okulasi.

Morfologi tanaman karet berbeda-beda berdasarkan jenisnya, pada dasarnya tanaman karet dibagi menjadi 2 bagian yaitu karet alam dan karet klone. Karet alam merupakan karet yang tumbuh secara alami tanpa direkayasa oleh manusia, sedangkan karet klon adalah keturunan yang diperoleh secara pembiakan vegetatif suatu tanaman (contoh RIM. PR, Daun lima, dan polong merah).


Untuk karet alam daunnya memiliki bentuk tidak beraturan, ada yang halus ada yang kasar, sedangkan batangnya mengalami pertubuhan yang lambat. RIM memiliki daun yang tipis namun beraturan berwana hijau tua, PR memiliki daun yang lebih tebal berwarna hijau kekuningan, daun lima mempunya helaian daun berjumlah 5 helai pada beberapa tangkai daunnya, polong merah mempunyai daun hijau kemerahan.

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: January 24, 2014

0 komentar:

Post a Comment