Pikiran! Pengikat dan Pembebas Derita

Tulisan kali ini saya buat berdasarkan buku yang saya baca karya Satya Sai International dan dibumbui dengan pendengaran dari pelajaran para Dosen di kelas serta beberapa pengalaman yang sebelumnya saya alami pada kehidupan ini.

Dalam hidup ini, banyak orang memiliki pola berpikir yang berbeda-beda baik dalam menghadapi masalah maupun mengemukakan pendapat. Ambillah sebuah contoh apa yang kita saksikan pada gambar di bawah ini?


Kebanyakan orang yang ditanya pertanyaan ini akan memberikan jawaban: “Aku melihat sebuah titik bundar hitam”. Jawaban ini belumlah sempurna. Jawaban yang benar seharusnya demikian: "Aku melihat banyak warna putih da nada titik kecil hitam di tengah-tengahnya”.

Inilah permasalahan yang kita miliki dalam menerima informasi dari luar. Kita cenderung melihat apa yang ingin kita lihat dan mengabaikan hal lain yang tidak kita inginkan. Bila kita memandang orang lain kita cenderung melihat kesalahan atau keburukan orang lain walaupun mereka mungkin memiliki banyak sifat baik.

Dalam kisah Mahabharata, Arjuna pernah mengatakan "Lebih mudah menemukan kerikil yang berada di antara gandum daripada sebaliknya" Ini sama perisis dengan yang terjadi pada kehidupan kita saat ini.

Bila ada orang yang menyebarkan desas-desus mereka akan senang sekali dalam segala jenis skandal dan hal-hal negatif tentang orang lain. Mereka tak pernah menggosipkan kebaikan orang lain.

Secara tidak kita sadari selama ini media seperti Koran, televisi, berita online, dan sebagainya telah mempengaruhi pikiran kita karena media tersebut kebanyakan menyajikan informasi bencana, kriminal, skandal, korupsi dan lain sebagainya di halaman depan karena itu dianggap menarik pembaca/visitor.

Setelah membaca berita di Koran, media online atau menonton ditelevisi yang mengandung informasi demikian kita pun lalu membicarakan keburukan orang lain dari mulut ke mulut dan lambat laun hal itupun menjadi kebiasaan bagi kita sehingga kita menjadi senang membicarakan keburukan orang lain.

Bapak Presiden Jokowi pun pernah menginggung hal ini, Beliau bahkan sempat meminta agar semua media diseluruh Indonesia menyeimbangi berita bersifat negatif dengan berita-berita yang positif yang membicarakan kebaikan orang lain demi memperbaiki citra Negara Indonesia agar terhindar dari Cap Negatif.

Contoh lain yang bisa kita jadikan pelajaran: Ada seorang wanita yang tinggal dalam sebuah rumah besar. Setiap pagi ia bangun pagi-pagi sekali untuk melakukan latihan aerobik dalam sebuah kamar tingkat atas. Sementara melakukan latihan itu ia dapat melihat melalui jendela kaca, wanita tetangganya yang sedang mencuci pakaian dan menjemurnya.


Setelah selesai latihan ia turun ke bawah untuk makan pagi bersama suaminya dan melaporkan apa yang ia saksikan tadi. “Aku tak mengerti tetangga kita itu, ia mungkin tak tahu cara mencuci pakaiannya! Pakaian yang dijemurnya itu tampak masih sangat kotor. Aku tak tahu deterjen apa yang digunakannya.”

Suaminya lalu berkata: “Mengapa mencemaskan tetangga kita itu? Kita mencuci pakaian kita sendiri cukup bersih, itu sudah cukup.” Tetapi instrinya tidak mendengarkan apa yang dikatakan suaminya itu. Setiap pagi sementara ia melakukan latihan dekat jendela, ia akan menyaksikan tetangganya mencuci pakaian dan kemudian melaporkan hal yang sama setiap hari: “Pakaian tetangga kita kotor lagi.”

Pada suatu hari, si istri buru-buru menuruni tangga dan waktu itu laporannya berbeda, “Aku tak tahu apa yang terjadi hari ini, pakaian yang dijemur tetangga kita itu demikian bersihnya. Ia pasti telah mengganti deterjen. Aku heran bagaimana ia mencuci pakaian hari ini.”

Sang Suami tertawa dan berkata: “Aku merasa risih dengan laporan harianmu itu. Pagi ini Aku bangun lebih awal dan membersihkan kaca jendela itu. Kemarin kaca jendela itu sangat kotor, sehingga ketika kamu memandang keluar, segalanya tampak kotor. Tetapi hari ini, kacanya bersih dan jernih, sehingga kamu menyaksikan segalanya bersih dan jernih pula di luar sana.”

Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita. Bila kita memahami dunia luar lewat indra-indra kita, penerimanya dalam hal ini adalah pikiran sadar. Bila pikiran kotor, kita juga akan memahami dunia ini sebagai kotor. Demikian kita harus membersihkan pikiran, memurnikannya dan hendaknya mulai melihat perubahan besar yang positif di dunia ini dan kita akan mampu untuk mulai meningkatkan kesadaran kita semakin tinggi.

Menurut Slokantara, sebuah objek yang sama bisa terlihat berbeda tergantung dari sudut mana pandangan itu berasal, misalnya ada satu objek yakni wanita muda yang cantik dipandang oleh harimau, pria hiper sex, dan seorang yogi.

Harimau ketika melihat wanita cantik ia akan berpikir: "betapa segarnya darah wanita muda itu jika aku makan." Sementara pria hiper sex akan berpikir "betapa nikmatnya wanita itu jika ku gauli." Dan seorang yogi akan berpikir: "itu hanyalah setumpuk daging yang sifatnya hanya sementara (tidak kekal)."

Bagaimana cara kita memandang sesuatu dipengaruhi oleh pikiran dan kegiatan yang sering dilakukan. Pikiran menentukan masa depan seseorang, sehingga muncul pertanyaan jika kita selalu memikirkan hal yang sama setiap harinya, apa yang akan terjadi pada diri kita seletah kita mati? Kisah seorang Pertapa dan Pelacur berikut ini bisa kita jadikan sebagai referensi.

Kisah Pertapa dan Pelacur

Ada seorang pertapa yang tinggal diasramnya dan di seberang jalan tepat berhadapan dengan asramnya ada rumah bordil di mana tinggal seorang pelacur. Setiap hari ketika pertapa akan melakukan meditasi, dia melihat para lelaki datang dan pergi dari dan ke rumah pelacur itu. Dia melihat pelacur itu sendiri menyambut dan mengantar tamu-tamunya.

Setiap hari pertapa itu membayangkan dan merenungkan perbuatan memalukan yang berlangsung di kamar pelacur itu, dan hatinya dipenuhi oleh kebencian akan kebobrokan moral dari pelacur itu.


Setiap hari pelacur itu melihat sang pertapa dalam praktek-praktek spiritualnya (sadhana). Dia berpikir betapa indahnya untuk menjadi demikian suci, untuk menggunakan waktu dalam doa dan meditasi. “Tapi” dia mengeluh, “nasibku memang menjadi pelacur. Ibuku dulu adalah seorang pelacur, dan putriku nanti juga akan menjadi pelacur. Demikianlah hukum negeri ini.”

Pertapa dan pelacur itu mati pada hari yang sama dan berdiri di hadapan Dewa Yama bersama-sama. Tanpa diduga sama sekali, pertapa itu dicela oleh Dewa Yama karena kesalahannya.

Namun sang pertapa memprotes: “hidupku adalah hidup yang suci. Aku telah menghabiskan hari-hariku untuk doa dan meditasi.”

“Ya,” kata Yama, “tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan suci itu, pikiran dan hatimu dipenuhi oleh penilaian jahat dan jiwamu dikotori oleh bayangan penuh nafsu.”

Sementara pelacur itu dipuji oleh Dewa Yama karena kebajikannya. Pelacur itu lalu berkata: “Saya tidak mengerti, selama hidupku aku telah menjual tubuhku kepada setiap lelaki yang memberikan harga yang pantas, tapi mengapa aku diberikan pujian”

Dewa Yama menjawab: “Lingkungan hidupmu menempatkan kamu dalam sebuah rumah bordil. Kamu lahir di sana, dan di luar kekuatanmu untuk melakukan selain dari hal itu. Tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan hina, pikiran dan hatimu selalu suci dan senatiasa dipusatkan dalam kontemplasi dan kesucian dari doa dan meditasi pertapa ini.”

Dua kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri. “Kebajikan bukanlah jubah yang engkau kenakan, atau gelar-gelar mulia yang engkau berikan kepada dirimu untuk dipamerkan kepada umum, melainkan hati dan pikiran yang suci adalah kebajikan yang sesungguhnya”.

Jika kita mengamati Catur Yuga, maka akan sangat jelas bahwa pada Zaman Satya Yuga tidak ada kejahatan sama sekali waktu itu yang ada hanyalah bencana alam (Referensi: Matsya Avatara) dan ketika di Zaman Kerta Yuga kejahatan mulai masuk dan hanya berada berbeda pulau dengan umat manusia (Referensi: Kisah Ramayana), setelah memasuki Zaman Dwapara Yuga kejahatan semakin dekat dan sudah menyelinap dalam keluarga (Referensi: Kisah Mahabharata), dan setelah memasuki Zaman Kali Yuga kejahatan sudah sangat dekat yakni ada dalam diri manusia (Referensi: Melecca Yajna).

Oleh sebab itu, sebelum menjustifikasi orang lain bersalah marilah kita introspeksi diri terlebih dahulu, mengapa kita berada dalam keadaan saat ini. Sang waktu merekam semua aktivitas yang kita alami sehingga Waktulah yang berhak menempatkan dimana, kapan dan mengapa posisi kita berada disana.

CATATAN: Tulisan ini akan ditambah dikemudian hari, dan dalam tulisan ini masih banyak terdapat kata-kata Negasi, jika suatu hari ada kesempatan saya akan edit kembali tulisan ini dan membebaskannya dari kata Negasi.

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: September 19, 2017

0 komentar:

Post a Comment