Bagaimanakah Dedikasi Seorang Anak Terhadap Orang Tua?

Siapa yang tidak mengenal dedikasi, kisah terbesar dari Mahabharata telah menceritakan sebuah dedikasi dalam bentuk pengorbanan seorang anak demi kebahagian orang tuanya. Dedikasi selalu saja membuat Yang Kuasa meletakkan orang itu disebuah tempat yang khusus karena dedikasi muncul didasari atas tanggungjawab.


Seperti apakah dedikasi itu? Jika memang benar-benar ingin tahu sebenarnya ada banyak kisah yang bisa kita jadikan referensi, beberapa kisah itu antara lain:

1) Bhisma Yang Agung (Devavrata): Untuk menghapus kepiluan yang ada pada lubuk hati ayahnya, Bhisma melakukan pengorbanan untuk tidak menikah lalu memutuskan untuk membujang seumur hidupnya serta hanya menjadi pelayan bagi Negara Hastinapura saja.

2) Abimanyu: Demi untuk menjaga kehormatan ayahnya (Arjuna), meski mendapat perintah dari raja Yudisthira untuk mundur dari keroyokan, Abimanyu tetap maju dan mengorbankan hidupnya. Pengorbanan Abinyamu pun membuat Arjuna begitu bangga memiliki anak sepertinya.

3) Puru: Ia adalah anak dari seorang Raja yang bernama Yayati. Raja Yayati adalah leluhur dari Bharata yang akan melahirkan Pandawa dan Kurawa. Yayati di kutuk oleh Mahaguru Sukra menjadi tua sehingga ia tidak puas menjalani kehidupan keduniawian.

Puru adalah anak paling bungsu dari Yayati yang memahami sastra suci sehingga dari empat bersaudara hanya dia yang mau mengorbankan masa mudanya dan menerima tubuh tua milik ayahnya selama 1000 tahun. Ayahnya (Yayati) pun menjadi muda kembali dan memuaskan seluruh hidupnya di keduniawian.

Jika kita merenungkan kisah-kisah di atas maka kita akan menemukan buah dari dedikasi seorang anak terhadap  guru rupaka. Seorang anak yang tau siapa dirinya akan memahami bahwa meskipun ia hidup selama 100 tahun sekalipun, ia tidak akan bisa membayar jasa kedua orangnya.

Demi untuk membuat kedua orang tua puas akan pelayanan bhaktinya, seorang anak akan melakukan berbagai cara termasuk melakukan pengorbanan yang khusus. Lalu bisakah kita memberikan pengorbanan khusus untuk melihat senyum diwajah kedua orang tua kita?

Cobalah renungkan! Jika kita tidak bisa memberikan dedikasi seperti Bhisma Yang Agung, Abimanyu, maupun Puru, lalu bisakah kita melakukan sebuah pengorbanan dari hal biasa namun bisa menjadi pelipur lara bagi hati ayah-ibu?

Misalkan saja jika kita berada jauh diseberang laut sana dan kedua orang tua meminta pulang karena rasa rindu dan ingin memberkatimu, apakah kita bisa pulang meskipun keadaanya tidaklah mendukung? Lalu apa dasar pertimbangan mengapa kita harus pulang?

Vasudeva pernah berkata: “Dasar dari semua kesenangan adalah rasa tanggungjawab, dan rasa itu berdampingan dalam hati manusia. Jadi sebelum mengambil keputusan, cobalah tanya hatimu sendiri apakah keputusan itu adalah hasil dari ke-egoisan atau diluar dari tanggungjawabmu? Lalu apakah hanya memikirkan masa depan dan mengabaikan tanggungjawab akan membuat hidupmu lebih menyenangkan? Renungkanlah!”

Pertanyaan yang muncul adalah, apakah membuat ayah dan ibu bahagia adalah kewajiban kita sebagai seorang anak? Jika iya maka ikutilah kata hati dan lakukanlah yang seharusnya dilakukan. Masa depan memang penting tetapi kewajiban menduduki posisi yang paling utama.

Jika kita selalu memikirkan masa depan maka kekhawatiran akan membelenggu diri manusia dan kita akan selalu dibayangi oleh keberhasilan atau kegagalan. Tetapi jika kita selalu melakukan suatu tindakan atas dasar kewajiban, maka pembebasan lahir batin pun sudah pasti akan menanti.

Jika yang membaca tulisan ini adalah juga seorang anak, cobalah baca kisah pengorbanan Bhisma Yang Agung, Abimanyu, dan Puru lalu renungkanlah. Maka kau akan mengetahui esensi siapa sesungguhnya ayah dan ibumu.

Posted by Wasiwa
Wasiwa Updated at: March 22, 2017

0 komentar:

Post a Comment